Navigasi Atas

Senin, 08 April 2013

Jangan Biarkan Forum Lingkar Pena Diklaim Partai

Oleh : Yons Ahmad
Sependek saya ikut mengurus Forum Lingkarpena (FLP) Pusat bersama kepengurusan Ketua Umum (2009-2013) Intan Savitri (Izzatul Jannah), tidak pernah ada cerita partai peduli terhadap dunia sastra dan kepenulisan. Tetapi, tiba-tiba seorang presiden partai dalam sebuah media mencoba melakukan klaim kalau FLP adalah wadah berkarya partai tersebut. Juga bilang kalau salah satu anggota yang dibesarkan oleh FLP, kader yang sudah berhasil buat novel best seller serta di film kan sebagai kader partai tersebut. Apakah klaim itu salah? Mungkin tidak. Tapi klaim demikian tidak begitu menguntungkan bagi FLP, kenapa bisa begitu?
Sejauh ini, Forum Lingkar Pena dalam kepengurusan yang saya ikut didalamnya pontang-panting sendiri. Forum Lingkar Pena (FLP) independen secara finansial tanpa ada bantuan dari partai tertentu. Forum Lingkar Pena (FLP) bekerja secara profesional untuk menjalankan roda organisasi. Bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan semacam Telkom, BSM, Tuperware, Faber Castel, pemerintah dll. Semuanya itu dilakukan secara mandiri untuk mencukupi organisasi. Jadi, cara dan upaya klaim yang demikian agak disesalkan.

Forum Lingkah Pena (FLP) adalah wadah terbukan bagi siapa saja. Tidak hanya tempat berkumpul dan berkarya kader partai tertentu saja. Jadi Forum Lingkar Pena (FLP) beragam anggotanya. Ketika ada upaya untuk melakukan klaim terhadap Forum Lingkar Pena (FLP) apalagi kalau sampai diklaim sebagai bagian tak terpisahkan dari partai tertentu, lagi-lagi yang demikian tidak menguntungkan Forum Lingkar Pena (FLP) secara organisasi. Apalagi sebuah partai yang saat ini citranya sedang buruk-buruknya di masyarakat karena skandal kasus korupsi yang membelitnya. Mengkait-kaitkan FLP dengan partai tersebut jelas tidak menguntungkan FLP secara organisasi.

Apalagi, seperti yang saya sebutkan di atas, sejauh ini fakta membuktikan bahwa partai atau politisi tidak ada (jarang) punya kontribusi terhadap dunia sastra dan kepenulisan. Jadi, kita perlu menyadari, juga perlu kita tegaskan bahwa hati-hati ketika politisi mulai mencampuri urusan sastra dan kepenulisan. Layaknya seorang politisi, mereka akan melakukan apa saja, termasuk melakukan klaim-klaim untuk menguntungkan dirinya dan juga partainya.

Barangkali, pernyataan-pernyataan diatas bernuansa pedas dan cenderung anti pati terhadap partai tersebut. Benarkah demikian? Tidak. Selama ini kader-kader Forum Lingkar Pena (FLP) secara sukarela, tanpa bayaran apapun bahu membahu, membantu dengan sepenuhnya memperbaiki citra partai itu. Membantu dengan kekuatan pena. Lewat tulisan di media, lewat Facebook, Twitter, mencoba memberikan pencerahan kepada pembaca, meluruskan dan menjelaskan bahwa fitnah-fitnah atas partai tersebut tidak benar adanya. Sudah semestinya, mereka membuka mata atas fakta demikian. Tidak ada kebencian apapun Forum Lingkar Pena (FLP) baik individu maupun secara organisasi untuk menghancurkan sebuah partai yang juga sebuah entitas umat Islam.

Hanya saja, ketika dengan sikap enteng ada upaya untuk melakukan klaim bahwa Forum Lingkar Pena (FLP) diaku-aku maka yang demikian saya kira bukan tindakan bijaksana. Forum Lingkar Pena ( FLP) saya kira masih punya izzah, masih punya wibawa. Bahkan saya yakin citra Forum Lingkar Pena (FLP) di mata masyarakat masih lebih baik dari citra partai itu yang memburuk di mata masyarakat. Mengkait-kaitkan FLP dengan entengnya dengan keberadan partai tersebut tentu merugikan organisasi FLP itu sendiri.

Kita: Forum Lingkar Pena (FLP) harus tegaskan bahwa kita independen. Kita insyallah tetap bisa berdiri, mengurus organisasi dengan kemampuan kita sendiri. Kita mesti peringatkan oknum-oknum tertentu yang dengan sikap enteng mencoba melakukan klaim secara tidak sehat. Bersikap dewasalah. Forum Lingkar Pena (FLP) walau bukan sebagai partai politik, bukan berarti Forum Lingkar Pena (FLP) apolitis dan bodoh dalam urusan-urusan politik. Kita: Forum Lingkar Pena (FLP) tidak pernah akan bisa dimanfaatkan oleh siapapun dengan cara-cara yang tidak sehat. Kita: Forum Lingkar Pena (FLP) tetap akan berdiri tegak dalam dunia literasi tanah air, sastra dan kepenulisan dengan independensi yang kita miliki.
*Humas FLP Pusat
Sumber : Grup Forum Lingkar Pena

MUNAS FLP 3

"Quo Vadis Penulis Era Digital"

MUNAS FLP 3
Musyawarah Nasional Forum Lingkar Pena Ke-3

Kegiatan :

  • Pemilihan Ketua Umum FLP Periode 2013-2017
  • Sidang-sidang MUNAS FLP
  • Seminar Umum "Quo Vadis Penulis Era Digital"
  • Seminar Internal "Revitalisasi Organisasi FLP di Dunia Literasi"
  • Travel Writing
  • Rekomendasi Munas
Waktu dan Tempat Kegiatan :

Kamis-Minggu, 29, 30, 31 Agustus s/d 1 September 2013
Hotel Green Vilas. Jl. Dewi Sartika Tuban-Bali

Selengkapnya : 
  • www.munasflp.com
  • munasflp@gmail.com




Forum Lingkar Pena

Forum Lingkar Pena atau lebih dikenal dengan singkatan FLP, adalah organisasi (calon) penulis yang didirikan pada tahun 1997 oleh Helvy Tiana Rosa, seorang sastrawan. Saat ini telah tersebar di seluruh Indonesia dan mancanegara, dan anggotanya telah mengeluarkan banyak karya fiksi dan non fiksi

Sejarah

Ide pendirian berasal dari diskusi tidak formal para alumni Fakultas Sastra Universitas Indonesia tentang mendesaknya kebutuhan umat akan bacaan yang baik serta banyaknya pemuda yang memiliki potensi dalam bidang kepenulisan tanpa tersalurkan. Pada tanggal 22 Februari 1997 didirikanlah sebuah forum penulis bernama Forum Lingkar Pena.
FLP tercatat memiliki cabang di hampir 30 propinsi dan di mancanegara dan telah beranggotakan sekitar 5000 orang di mana hampir 70 persen anggotanya adalah perempuan. Dari jumlah ini, 500 diantaranya menulis secara aktif di berbagai media massa serta berusaha membina 4500 anggota FLP lainnya untuk menjadi penulis pula.

Kutipan


  • Para anggota Forum Lingkar Pena tidak hanya mampu menulis dengan baik, tetapi juga menerbitkan karya-karya mereka dan... laku. Mereka sangat fenomenal. Forum Lingkar Pena adalah hadiah dari Allah untuk Indonesia. (Taufik Ismail)
  • Forum Lingkar Pena adalah sebuah "Pabrik Penulis Cerita" (Koran Tempo)
  • Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia dan para kerabat Forum Lingkar Pena membawa fenomena baru dalam penulisan sastra dakwah kontemporer di Indonesia...karya-karya Forum Lingkar Pena juga mendapat perhatian dan penghargaan dari para peminat sastra. (Republika)

Sumber : Wikipedia.com